← Kembali ke buku
Jilid II, cuplikan
Aku Pernah Menggenggam Tanganmu
Sebuah cerita tentang menemukanmu dan diri-Nya.
Sembilan potongan dari 120 halaman. Scroll pelan-pelan, bacanya juga pelan-pelan.
Setelah hilangnya dirimu, aku temukan makna hilangmu. Yang pada akhirnya kutemukan diriku (lagi).
Halaman pembuka
Aku tidak pernah tahu, apakah di kehidupan selanjutnya masih bisa bertemu denganmu? Itulah mengapa di kehidupan kali ini kuusahakan yang berujung namamu. Karena aku selalu berpikir, hari ini adalah terakhir kita bertemu.
Hlm. 03
Di antara riuhnya manusia, kamu adalah tenang yang tidak pernah aku temukan di insan mana pun.
Hlm. 04
Jika suatu hari kamu lelah, datanglah bukan untuk menetap, tapi untuk sekadar istirahat. Sebab aku tidak ingin jadi tempat persinggahan, aku ingin jadi rumah yang kamu pilih, bukan pelarian yang kamu datangi saat semua terasa salah.
Hlm. 13
Jangan terlalu marah pada kehilangan. Kadang, cinta yang hilang itu bukan hukuman, tapi perlindungan. Kamu menangis sekarang, iya. Tapi suatu hari nanti kamu akan tersenyum sambil berkata, “Ya Allah, terima kasih… Engkau jaga aku dengan cara yang tidak aku suka.”
Hlm. 36
Bukan ombaknya yang besar. Tapi, perahu kita yang terlalu kecil.
Hlm. 61
Dulu aku berdoa agar kita satu, sekarang aku berdoa agar aku ridha.
Hlm. 73
Perlahan-lahan adalah cara tercepat untuk sampai pada tujuan.
Hlm. 101
Ada rasa yang tidak hilang, tapi berubah bentuk. Dulu ia seperti api, menyala, membakar, menuntut. Sekarang ia seperti udara, tak terlihat, tapi ada. Tak lagi ingin memiliki, hanya ingin memastikan baik-baik saja.
Hlm. 111
Sisanya ada di dalam buku.
Masih ada lebih dari seratus halaman lagi tentang menemukan, kehilangan, dan belajar pulang. Pesan versi cetaknya lewat pre-order.