← Kembali ke buku
Menjajaki Perjalanan, cuplikan
Untuk Yang Pertama, Judulnya Adalah Namamu
Aku tinggal atau hinggap.
Sepuluh potongan dari 139 halaman. Ada yang manis, ada yang bikin senyum, ada yang jadi doa.
Untuk memulai segala hal yang ujungnya adalah namamu. Mari tetap berdo’a sampai perjalanan ini selesai nanti.
Titik keberangkatan
Aku selalu sadar dan percaya, bahwa di dunia ini jika aku dan kamu bertemu, maka akan ada dua kemungkinan yang terjadi. Pertama, menjadi teman hidup. Kedua, menjadi pelajaran hidup.
Hlm. 3
Tidak ada yang perlu diburu-buru atau terburu-buru untuk sampai di sana. Sebab, alam semesta sekalipun tidak pernah terburu-buru untuk mencapai tujuannya.
Hlm. 4
Untuk ini, mari berpegangan. Jangan mengejar surga sendirian, berat.
Hlm. 8
Kamu boleh gagal, boleh patah, boleh jatuh. Tapi, jangan hilang.
Hlm. 9
Jangan tergoda dengan hal yang mungkin tak cocok denganmu, ya. “Pantai itu luas menyenangkan, desir pasir pantainya indaah dan bikini di tepinya, tapi aku ini ikan air tawar, ketenteramanku tinggal di empang.”
Hlm. 25
Kamu selalu rindu gerimis dan hujan di sini. Katamu, itu indah. Menurutku, tidak selalu. Tergantung. Ada kamu di dalamnya, baru aku setuju.
Hlm. 61
Aku kira tentang rindu tidak ada analoginya. Ternyata, salah. Rindu menurutku seperti kopi hitam. Kukira saat bertemu sudah habis dan tak tersisa. Ternyata, masih ada ampasnya.
Hlm. 65
Kamu, jangan jauh-jauh. Aku titip jantungku, soalnya.
Hlm. 77
Saat tak tenang, aku harap kamu tetap memanggil. Jangan aku, Tuhanmu dulu. Nanti, aku menyusul.
Hlm. 109
Sisanya ada di dalam buku.
Masih ada lebih dari seratus halaman lagi tentang bertemu, berproses, dan perjalanan yang ujungnya adalah sebuah nama. Pesan versi cetaknya lewat pre-order.